Muhammad Nizam Jika Perkaderan Kehilangan Substansi, Masa Depan HPMM Terancam
- account_circle Sorotan Rakyat
- calendar_month Sen, 19 Okt 2026
- visibility 49
- comment 0 komentar

Sorotanrakyat.co.id – Perkaderan merupakan jantung kehidupan organisasi. Di dalamnya, nilai, ideologi, dan semangat perjuangan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa perkaderan yang hidup, organisasi hanya akan menjadi wadah tanpa ruh, berjalan tanpa arah.
Bagi Himpunan Pemuda Mahasiswa Massenrempulu (HPMM), perkaderan bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang sakral pembentukan karakter, intelektualitas, dan tanggung jawab seorang kader terhadap organisasi dan masyarakat.
Namun, di tengah dinamika organisasi hari ini, kita perlu bertanya secara jujur dan mendalam: apakah perkaderan hari ini masih menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis, atau justru perlahan berubah menjadi rutinitas yang hanya mengejar terlaksananya sebuah kegiatan?
Pertanyaan ini menjadi sangat relevan ketika kita menatap pelaksanaan Intermediate Training (LK II). Seharusnya, LK II menjadi momentum penting dan strategis dalam meningkatkan kualitas kader. Pada tahap ini, kader tidak lagi dituntut untuk sekadar memahami hal-hal dasar. Mereka dituntut untuk melampaui pemahaman dasar, mempertajam analisis sosial, serta membangun keberanian dalam membaca dan merespons persoalan-persoalan sosial yang terjadi di sekitarnya.
Akan tetapi, keberhasilan perkaderan tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan, banyaknya peserta, ataupun megahnya seremoni penutupan. Ukuran yang lebih substansial dan hakiki adalah sejauh mana proses tersebut mampu melahirkan kader yang berpikir kritis, berintegritas, dan konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai luhur organisasi.
Ketika perkaderan lebih berorientasi pada formalitas daripada substansi, maka di situlah kita patut melakukan evaluasi besar-besaran. Jangan sampai forum yang seharusnya melahirkan kesadaran justru kehilangan daya transformasinya dan hanya menjadi ajang menggugurkan kewajiban.
Kita harus menyadari, sertifikat boleh menjadi bukti bahwa seseorang telah mengikuti proses perkaderan, tetapi tidak otomatis menjadi bukti bahwa ia telah memahami tanggung jawab intelektual dan moral sebagai seorang kader HPMM. Sertifikat adalah administratif, sedangkan kualitas adalah substansial.
HPMM hari ini tidak membutuhkan kader yang hanya banyak secara kuantitas. HPMM membutuhkan perkaderan yang tidak hanya melahirkan kader secara administratif, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki kedalaman berpikir, keteguhan prinsip, dan keberanian dalam mengambil sikap di tengah berbagai persoalan umat dan daerah.
Sebab, organisasi tidak akan pernah tumbuh hanya dengan bertambahnya jumlah kader setiap tahunnya. Organisasi akan tumbuh dan besar melalui kualitas pemikiran, gagasan, dan tindakan nyata yang dihadirkan oleh para kadernya.
Pada akhirnya, LK II harus kita kembalikan pada khitahnya sebagai ruang penyemaian gagasan, ruang dialektika, dan penguatan komitmen perjuangan, bukan sekadar tahapan yang harus dilewati untuk memperoleh pengakuan status sebagai senior.
Jika perkaderan kehilangan substansinya, maka yang terancam bukan hanya kualitas kader hari ini, tetapi juga masa depan dan eksistensi perjuangan HPMM itu sendiri.
- Penulis: Sorotan Rakyat

Saat ini belum ada komentar